Pembatasan Kartu Kredit

Kartu kredit di Indonesia sejak tahun 2012 mengalami perkembangan yang cukup signifikan namun juga diiringi dengan berbagai masalah. Permasalahan yang umum terjadi adalah penggunaan yang tidak wajar oleh pemilik kartu. Tidak dipungkiri bahwa “kemudahan” membuat kartu kredit mendorong sebagian masyarakat menjadi lebih konsumtif tanpa memperhitungkan utang yang harus dibayar beserta bunganya. Oleh karena itu, Bank Indonesia telah menerapkan aturan bahwa setiap individu hanya diperbolehkan memiliki maksimal 2 kartu dari penerbit. Peraturan ini mulai diberlakukan mulai 1 Janurai 2013 hingga 31 Desember 2013. Penerapan kebijakan tersebut tentu akan menimbulkan efek menurunnya jumlah penerbitan kartu kredit baru, sebab setiap bank akan menyeleksi secara ketat pengajuan dari para nasabah.

Alasan pemerintah melalui Bank Indonesia menerapkan aturan ketat terhadap kepemilikan kartu kredit adalah kecenderungan pemakaian yang tidak terkontrol sehingga merugikan masyarakat pengguna itu sendiri. Kemudahan pembuatan kartu kredit yang banyak ditawarkan oleh pihak bank membuat satu orang bisa memiliki hingga puluhan kartu kredit. Kenyataan seperti itu banyak terjadi di masyarakat sedangkan penghasilan mereka rata-rata dibawah 10 juta perbulan ke bawah. Hal tersebut menjadikan tidak rasional ketika menggunakan kartu-kartu saktinya tersebut padahal kemampuan keuangan pemilik secara hitungan matematika tidak mungkin menutup semua tagihan tersebut. Walaupun ada trik-trik untuk mencari keuntungan dengan mempunyai banyak kartu kredit namun tidak semua orang bisa melakukannya secara benar.

Sebenarnya soal pembatasan kartu kredit terutama terhadap penggunaannya harus dari masing-masing individu pemegang kartu itu sendiri. Namun seperti yang kita maklumi bahwa tidak setiap orang bisa menjalankan manajemen keuangan dengan benar, sehingga sering muncul banyak kasus pemegang kartu kredit tidak bisa melunasi pembayaran hutangnya. Kemudahan kartu kredit sering disalahgunakan untuk kebutuhan yang sifatnya konsumtif. Dari sekedar gengsi hingga sebagai belanja yang sifatnya kebutuhan yang tidak benar-benar diperlukan pada saat itu. Akhirnya fungsi kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi tanpa harus membawa uang tunai banyak berubah menjadi pemborosan.

Selain pemborosan yang dilakukan secara sadar ada juga pemborosan karena kecerobohan pemegang kartu kredit dalam melakukan transaksi. Secara fisik penggunaan kartu bisa dilakukan di berbagai tempat seperti supermarket, mall, minimarket, dan beberapa jenis toko lainnya. Ketidaktahuan serta ketidakpedulian pada penggunaannya sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab sehingga memungkin pada saat transaksi melakukan gesek ulang atau swipe kartu. Hal itu memungkin data nomor, masa berlaku, dan cvv kartu terekam oleh mesin.

Transaksi online dengan menggunakan kartu kredit juga memiliki resiko tinggi apalagi bagi pengguna yang kurang mendapatkan informasi mengenai kriteria website serta penggunaan perangkat komputer komputer yang aman. Tidak semua toko online yang menyediakan pilihan pembayaran menggunakan kartu kredit terlindungi enkripsi keamanan untuk transaksi. Banyak juga toko online palsu yang menjual barang-barang terlalu murah dibandingkan harga pasaran. Oleh karena itu bagi pemegang kartu kredit yang menginginkan transaksi online sebelumnya perlu mencari informasi yang lebih akurat tentang toko yang dimaksud melalui orang yang dipercaya atau forum online. Sedangkan masalah keamanan dari penggunaan komputer juga harus menjadi perhatian yang serius. Ada banyak varian virus hingga saat ini yang salah satunya berfungsi untuk menyadap dan mencuri data-data dari komputer yang terinfeksi dan kemudian informasi itu dikirim secara otomatis ke alamat server pelaku. Nah kalau data tersebut sudah bocor dan diketahui orang lain maka akan bisa dipergunakan transaksi lain secara ilegal.

Melihat berbagai kenyataan yang ada sekarang ini maka bisa dikatakan wajar jika Bank Indonesia sebagai bank sentral memberlakukan peraturan tentang pembatasan pemilikan kartu kredit. Hal itu sebagai upaya melindungi nasabah yang mudah tergiur untuk menggunakan kartu kredit secara tidak wajar. Kesimpulannya secara garis besar untuk mengontrol dan mengurangi perilaku tidak sehat akibat mudahnya berhutang menggunakan kartu kredit agar nantinya tidak menimbulkan beban masalah pembayaran yang cenderung melebihi kemampuan keuangannya.

You May Also Like

About the Author: Jurnal Keuangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *